
Play/Download
Dari bagian 2
Sesekali kulirik Tante Yola yang kelojotan setiap kali butiran sebesar
bola golf itu dikeluarkan dari liang kewanitaannya. Atau wajah Tante
Irene yang tak henti-hentinya mengerang menahan rasa nikmat yang luar
biasa. Kelihatannya Tante Rissa lihai sekali memainkan vibrator
tersebut. Kulihat daerah selangkangan Tante Irene sudah banjir oleh air
kewanitaannya. Kami betul-betul bercampur tanpa batas. Dan satu-satunya
yang sadar di ruangan itu hanya aku, sisanya sudah mabuk oleh
minuman-minuman yang mereka tegak sejak tadi. Aku tidak bisa bercerita
dengan detil di sini karena betul-betul banyak hal dan variasi yang kami
lakukan. Mungkin aku hanya bisa cerita hal-hal yang kuingat dengan
jelas. Seperti misalnya ketika kedua tangan Tante Rissa dipegangi oleh
Tante Yola dan Tante Irene, sementara Tante Shinta dan Tante Lisbeth
asyik ngerjain wanita cantik itu dengan tali-tali berbutirnya. Tante
Shinta memegang tali berbutir yang butirannya sebesar bola golf,
sementara Tante Lisbeth memegang tali berbutir yang lebih kecil. Aku
sendiri dengan liar menjilati setiap jengkal tubuh Tante Rissa. Desahan
dan erangan tak henti-hentinya keluar dari bibir wanita itu.
Seperti yang dilakukan pada Tante Yola tadi, Tante Shinta memasukkan
satu demi satu butiran-butiran sebesar bola golf itu ke dalam vagina
Tante Rissa dan kemudian menyalakan penggetarnya. Pada saat yang sama
juga Tante Lisbeth memasukkan butiran-butiran yang hanya sebesar
kelereng itu ke dalam lubang pantat Tante Lisbeth, dan kemudian
menggetarkannya. Uhh.. aku tidak bisa membayangkan rasa nikmat yang
dialami Tante Rissa. Pasti asyik sekali. Tubuhnya betul-betul
menggelinjang, aku saja sampai kerepotan menjilatinya.
"Aaakhh.. pada gila ya.. oohh stop.. please.. stop.. cukup.. uugghh..",
Tante Rissa terus mengerang keasyikan, namun kami tidak perduli. Dan
kulihat vagina Tante Rissa betul-betul membanjir.
"Uuuhh.. banjiirr boo"" seru kelima wanita itu.
Mereka bersorak ribut sekali. Pada saat itu aku sendiri juga tidak
merasa sebagai laki-laki yang melayani nafsu seks lima wanita itu. Entah
kenapa aku juga merasa menjadi bagian dari mereka, seolah-olah aku
wanita yang ikut dalam pesta lesbian.
Tante Rissa betul-betul lemas. Entah berapa banyak cairan yang keluar
dari vaginanya. Yang aku ingat keempat sahabatnya dan aku betul-betul
liar menjilati cairan yang terus menerus keluar dari vagina Tante Rissa.
Bahkan kami sampai bertukar-tukar, seperti misalnya aku sudah mengulum
cairan yang kujilati dari vagina Tante Rissa, kemudian aku membagikannya
ke dalam mulut Tante Irene lewat mulutku. Demikian juga yang lain.
Betul-betul gila.
Ternyata yang "dipelonco", bukan hanya Tante Rissa. Kesempatan
berikutnya giliran Tante Yola yang diperlakukan sama. Dan gilanya Tante
Rissa setelah lemas dipelonco tadi seperti tidak ada apa-apa saja.
Wanita itu kembali bernafsu ikut ngerjain Tante Yola. Uhh.. wanita
berkulit hitam itu betul-betul meronta seperti kesetanan. Apalagi ketika
tali berbutir digetarkan di dalam vaginanya. Ranjang Tante Irene sampai
goyang-goyang tak karuan.
Berikutnya giliran Tante Lisbeth. Wanita yang pada awalnya terlihat sok
cool ini akhirnya tak kuasa juga melepas rasa nikmatnya dengan menjerit
keras-keras. Selama mengikuti permainan mereka sejak tadi entah kenapa
aku sama sekali tidak berhasrat memasukkan penisku ke dalam vagina salah
satu dari mereka. Bahkan untuk melakukan masturbasi di depan mereka
juga tidak. Aku seperti hanyut dalam permainan.
Kemudian pada saat giliran Tante Shinta, wanita-wanita itu seperti
mendendam. Tante Shinta yang dikerjain paling lama dan semua alat
digunakan kepada wanita itu. Dimulai dengan vibrator biasa, kemudian
tali berbutir, dan lain-lain sampai terakhir vibrator elektrik. Vagina
Tante Shinta betul-betul banjir. Huh.. baru kali ini aku melihat
wanita-wanita mengalami multi orgasme sampai separah itu.
Berikutnya giliran Tante Irene. Wanita ini mendapat perlakuan spesial
sebagai hadiah ulang tahunnya. Tidak hanya dikerjain seperti nasib
sahabat-sahabatnya, tapi Tante Irene juga melakukan "persetubuhan",
dengan keempat wanita yang lain. Aku pikir inilah saatnya aku menikmati
permainan yang sesungguhnya.
Dimulai dari Tante Yola yang mengenakan celana dalam yang di bagian
depannya ada vibratornya. Kami duduk mengelilingi Tante Yola dan Tante
Irene yang "bersetubuh", seperti pasangan normal saja. Berikutnya
gantian Tante Shinta, Tante Lisbeth dan Tante Rissa. Akhirnya tiba juga
giliranku untuk menikmati hangatnya vagina. Sambil berdiri dengan lutut,
aku bersiap memasukkan batang penisku yang sudah keras itu ke dalam
vagina Tante Irene.
Tiba-tiba dari arah belakang Tante Rissa menarik tubuhku sebelum aku sempat memasukkan batang penisku ke vagina Tante Irene.
"Ehh.. kenapa Tante..", seruku.
Tante Rissa tertawa nakal diiringi cekikikan wanita yang lain. Tiba-tiba
dengan sigap kelima wanita itu mengepungku dan dalam waktu singkat aku
sudah terpasung di atas ranjang dengan kedua tangan dan kaki yang
terikat. Oh.. gila, apalagi ini.
Kemudian Tante Irene menghampiriku.
"Kayaknya kamu perlu ini deh sayang biar kamu bisa ngimbangin
kita-kita.. hihihi.. mmhh..", Tante Irene tiba-tiba mencium bibirku dan
aku merasakan wanita itu memindahkan beberapa butir pil dari dalam
mulutnya ke mulutku.
Mau tak mau aku menelan pil yang aku tidak tau pil apa itu.
"Apa nih Tante?" seruku setelah pil yang kira-kira berjumlah lima butir itu kutelan. Tante Irene tersenyum.
"Obat kuat hihihi..", jawabnya.
"Eh siapa duluan nih?" seru Tante Rissa tiba-tiba.
"Kasi yang ultah aja dulu, kan Rio udah minum itu, pasti staminanya gak turun deh hihihi..", celetuk Tante Lisbeth.
Keempat sahabatnya setuju. Kelihatannya Kelima wanita itu ingin
menggilir penisku bergantian. Ughh.. aku sedikit nggak pede, apa iya aku
mampu. Sekarang aja rasanya udah mau orgasme sejak bergumul dengan
mereka tadi. Tapi mungkin pil yang disuapkan Tante Irene tadi bisa
membantu.
Tante Irene kemudian mulai menjilati batang penisku yang sudah keras.
Mungkin ukurannya sudah mencapai maksimal Urat-uratnya sudah mulai
kelihatan. Sebetulnya penisku berukuran biasa saja. Entah kenapa mata
Tante Irene betul-betul bernafsu sekali melihatnya. Lidahnya lincah
sekali menjelajahi penis dan selangkanganku. Keempat wanita yang lain
duduk mengelilingi sambil bersorak.
Setelah puas menjilati dan mengulum penisku, kemudian wanita itu mulai
jongkok di atas tubuhku. Digenggamnya batang penisku dan perlahan-lahan
tubuhnya mulai turun. Ughh.. aku merasakan nikmat ketika ujung penisku
menyentuh bibir vagina Tante Irene. Sedikit demi sedikit dan akhirnya..
bless.. penisku pun amblas ke dalam vagina Tante Irene. Wanita itu
memutar-mutar pinggulnya. Alamak.. nikmatnya luar biasa. Seharusnya
penisku sudah memuntahkan sperma sejak Tante Irene memasukkan vaginanya
tadi, namun entah kenapa spermaku tak kunjung keluar. Padahal penisku
sudah berdenyut-denyut. Hampir dua puluh menit Tante Irene menggoyangkan
pinggul, pinggang dan pantatnya. Dengan posisi duduk, tiduran, hingga
akhirnya aku mulai merasa spermaku ingin keluar.
"Ssshh.. aahh Tante.. udah mau keluar nih..", seruku di tengah-tengah desahan menahan rasa nikmat.
Tante Irene tersenyum manja. Wanita itu sudah sejak tadi orgasme berkali-kali di atas tubuhku.
"Ya udah, bareng ya.. sshh..", aku betul-betul memuncak. Sebentar lagi aku merasa akan meledak.
Tiba-tiba Tante Lisbeth menghampiri kami dan berjongkok di belakang
tubuh Tante Irene yang sedang naik turun. Aku nggak tau apa yang
diperbuatnya. Sekilas kulihat Tante Irene tersenyum dan Tante Lisbeth
memeluknya dari belakang. Kulihat payudara Tante Irene yang montok itu
diremas-remas. Ahh.. pemandangan itu semakin membuat nafsuku naik.
"Riioo.. I"m cumming.. sshh.. oohh..", Tante Irene pun mencapai orgasme
untuk kesekian kali. Dan cairan kewanitaan yang membanjiri penisku pun
memacu spermaku untuk keluar.
"Aahh.. Croott.. crroott.. croott.. ups!"
Belum selesai penisku memuntahkan seluruh sperma, tiba-tiba Tante Irene
mencabut penisku dari vaginanya, lantas wanita itu berguling ke samping.
Tanpa kuduga Tante Lisbeth yang tadi berada di belakang Tante Irene
langsung maju dan menindihku sehingga penisku langsung amblas dalam
sekejap ke dalam liang vaginanya. Croott.. croott.. penisku masih
memuntahkan sperma sisa permainanku dengan Tante Irene.
Gila, variasi apalagi ini! Bagai Tanpa peduli Tante Lisbeth melanjutkan
permainan. Wanita itu memutar pinggang dan pinggulnya kesana kemari.
Ugghh.. satu hal yang bikin aku heran penisku masih bertahan. Meskipun
sperma sudah tidak keluar lagi tapi tidak langsung lemas seperti
biasanya. Dan birahiku pun semakin terbakar melihat tubuh putih mulus
yang bergoyang di atas tubuhku.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian penisku kembali berdenyut ingin
memuntahkan sperma. Dan sudah sejak lima menit yang lalu di belakang
Tante Lisbeth ada Tante Yola yang bersiap untuk giliran berikutnya. Aku
sengaja tidak bilang supaya Tante Lisbeth tidak buru-buru pergi, karena
dari kelima wanita itu Tante Lisbethlah yang paling aku suka. Tanpa
kuduga Tante Lisbeth sudah bisa menebak gejalaku. Baru semprotan sperma
yang pertama wanita Chinese itu langsung mencabut tubuhnya dan berguling
ke samping. Dengan penuh nafsu Tante Yola langsung menggantikan Tante
Lisbeth.
Aku cukup lama melayani Tante Yola karena aku kurang begitu bergairah
dengannya. Hampir satu jam penisku baru mulai berdenyut tanda sperma
akan keluar. Dan di belakang Tante Yola, Tante Rissa sudah bersiap untuk
memacu birahi denganku.
Crott.. Croott.. Dua semprotan awal menyudahi permainanku dengan Tante
Yola, dan Tante Rissa pun menggantikan untuk menikmati sisa spermaku.
Tante Rissa masih seperti dulu, lihai sekali merangsang bagian-bagian
sensitifku. Sambil tubuhnya bergoyang, jemari lentiknya aktif
menjelajahi tubuhku.
Menjelang menit ke tiga puluh dengan Tante Rissa, Tante Shinta naik ke
atas tubuhku tapi tidak di belakang Tante Rissa, melainkan di depannya.
Jadi posisi mereka berhadapan. Aku tak tau apa yang dilakukannya. Aku
hanya mendengar suara berciuman yang penuh nafsu.
"Crott.. Croott.. Crroott.. Croott.."
Tante Rissa kebablasan. Setelah semburan keempat wanita itu baru
mengangkat tubuhnya. Itu karena Tante Shinta yang asyik menggodanya.
Tante Shinta dengan sigap langsung memasukkan penisku yang masih
menyemprot itu ke dalam vaginanya. Posisinya berbeda dengan yang lain,
jadi tubuh wanita itu membelakangiku. Ughh.. enak sih, tapi aku ingin
melihat wajah Tante Shinta yang cantik.
Tanpa kuduga wanita itu memutar tubuhnya. Aahh.. dinding vaginanya
serasa memutar penisku. Kemudian wanita itu sudah berada dalam posisi
menghadapku. Ternyata Tante Shinta tidak menggoyangkan tubuhnya. Penisku
dibiarkan beristirahat di dalam vaginanya yang hangat. Sementara wanita
itu menari-nari dengan erotis di atas tubuhku.
"Ehmm.. wah bakal ada gempa nih kayaknya..", celetuk Tante Lisbeth.
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Tiba-tiba detik berikutnya aku
merasakan ada sesuatu yang menyedot penisku. Gila..! Aku belum pernah
merasakan sedotan yang begini hebat dari dalam vagina. Ugghh.. tubuhku
menggelinjang menahan rasa nikmat. Kulihat Tante Shinta masih tetap
menari dengan tenang.
"Gila kamu Shin.. jail banget sih.. hihihi..", celetuk yang lain.
Ooohh.. aku betul-betul merasakan sensasi yang luar biasa. Tubuhku
rasanya ingin orgasme tapi nggak sampai-sampai. Betul-betul kenikmatan
panjang dan melelahkan.
Hampir satu jam kemudian, keempat wanita yang lain mulai mendekati
tubuhku. Mereka berkeliling dan jemari mereka mulai menjelajahi tubuhku
dan tubuh Tante Shinta. Aahh gila.. betul-betul sensasional. Akhirnya
penisku pun berdenyut tanda ingin orgasme.
"O-ow.. udah waktunya nih..", seru Tante Shinta.
Gila, wanita itu bisa tau. Tiba-tiba dinding vagina Tante Shinta semakin
kencang berdenyut. Sedotan pun semakin kuat. Aahh.. aku nggak tahan
lagi dan.., "Croott..!".
Tante Shinta langsung mengangkat tubuhnya dan dengan cepat berganti
posisi berbaur dengan keempat sahabatnya. Kelima wanita itu bersorak
melihat penisku yang memuntahkan sperma secara gila-gilaan. Lidah mereka
berebutan menangkap cipratan-cipratan sperma yang keluar dari penisku.
Ughh.. Mereka juga menjilati sperma yang berceceran di sekitar
selangkanganku.
Tanpa terasa malam sudah hampir berganti pagi. Tubuhku tergeletak di
antara tubuh-tubuh mulus yang kelelahan seperti aku. Rasanya capek
sekali. Satu-persatu mereka tertidur tanpa sempat mandi. Hanya aku yang
tidak bisa tidur, mungkin karena pengaruh obat tadi.
Aku melihat ke sekeliling. Tiba-tiba aku stress memikirkan bagaimana di
kantor nanti pagi. Pasti ngantuk sekali. Aku langsung menelpon Blue Bird
untuk minta dikirim taksi. Setelah itu aku memberanikan diri
membangunkan Tante Rissa untuk pamit. Sulit sekali membangunkan wanita
mabuk yang sudah tertidur. Akhirnya setengah sadar Tante Rissa bangun.
"Aku pulang dulu Tante..", ujarku.
Tante Rissa tidak langsung menjawab. Seperti sedang mengumpulkan nyawa.
"Kok pulang sayang? Tidur di sini aja..", jawab Tante Rissa. Aku tersenyum.
"Nggak bisa Tante, nanti pagi aku mesti ke kantor. Ini aja aku pengen tidur sebentar di rumah..", jelasku.
Tante Rissa hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Oke, hati-hati ya..", jawabnya sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
Sedikit geli juga melihat bibir Tante Rissa yang dimonyongin tanda memintaku untuk menciumnya.
"Mmmuuachh..", aku mencium bibir lembutnya dengan mesra. Tak ada lagi rasa nafsu.
"Makasih yang udah ikutan party kita..", kata Tante Rissa seraya merengkuh kepalaku.
"Iya, makasih juga buat acaranya Tante, gila.. tambah pengalaman lagi nih hihihi..", Tante Rissa tertawa mendengar jawabanku.
Wanita itu lantas mengantarku sampai ke depan pagar.
"Tante nggak antar dulu ya Yo, lemes nih.. kamu sih hihihi..", bisik Tante Rissa. Aku tersenyum.
"Iya nggak pa-pa Tante, aku udah pesan taksi." jawabku.
Tak lama kemudian taksi datang. Dan aku pun meningkalkan rumah
kenikmatan itu setelah mengecup bibir Tante Rissa sekali lagi. Hhh..
akhirnya aku pun tertidur di taksi.
E N D